Informasi Islam

Bahayanya pluralisme agama

Filed under: Dienulhaq

"Diabolisme Intelektual"

Diabolos adalah ‘iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan
dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi
dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan

Oleh Dr. Syamsuddin Arif *

Diabolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery
dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur’an, cetakan Baroda
1938, hlm. 48. Maka istilah "diabolisme" berarti pemikiran, watak dan
perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam kitab suci al-
Qur’an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang
diciptakan dari api (15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan
dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam.
Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak
mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun
ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya
seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut ‘kafir’? Di
sinilah letak persoalannya.

Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak
cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu
persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana
orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya’rifunahu kama
ya’rifuna abna’ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.

Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus
disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan
kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan
perintah. "Knowledge and recognition should be followed by
acknowledgement and submission, " tegas Profesor Naquib al-Attas.

Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu.
Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116),
menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan
melawan perintah Tuhan (fasaqa ?an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam hal
ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut
sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang
dicontohkannya.

Iblis adalah ‘prototype’ intelektual ‘keblinger’. Sebagaimana
dikisahkan dalam al-Qur’an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon
agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara
waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan
segala cara.

"Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan
seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri.
Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan
mereka [kenikmatan dan keselamatan]!" Demikian difirmankan kepada
Iblis (QS 17:64).

Maka Iblis pun bertekad: "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu
yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari
sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17). Maksudnya, menurut
Ibnu ?Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar
keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti
terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada
dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama
(Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-?Az?im, cetakan Beirut, al-
Maktabah al-?As?riyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis.
Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur’an sebagai
berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun
ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima
kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zulman
wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini
(wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran
demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan
kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu
mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan
tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada
cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti
itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan
dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut
juga al-’inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-
Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-’Aqa’id, dalam Majmu? min Muhimmat al-
Mutun, Kairo: al-Matba’ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh,
congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis
Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): "Sombong ialah
menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa
ghamtu n-nas)".

Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan
dalam al-Qur’an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis,
logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik
dan skeptis, menghujat al-Qur’an maupun Hadis, meragukan dan menolak
kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis
dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental
Iblis.

Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka
menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan
dungu (sufaha’). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam
al-Qur’an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran
itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat,
tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat
jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika
melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (7:146).

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran
(talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu
mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan
data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa
sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di’preteli’ sehingga kelihatan
seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas
lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini
memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.

Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan
inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat Al-
Qur’an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk
mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq,
sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma’tsur dari ayat-ayat tersebut.

Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian
mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan
membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah
jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-
sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat
kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah
dijelaskan dalam al-Qur’an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-
haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta’lamun?" Yang sangat
mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang
zahirnya Muslim.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan
(syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani ’syatan’, yang artinya
lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et
Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur’an memang
ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan
35:6). Selain pembangkang (’asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan
kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla),
menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga
memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi
(yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa)
dan menguasai (istah’wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-
nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta’uzz),
menyeru (yad’u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk
kebatilan (zayyana lahum a’malahum), membisikkan hal-hal negatif ke
dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan
memberikan iming-iming (ya’iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan
tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai
(yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi’u l-’adawah wa l-
baghda’), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’mur bi l-
fahsya’ wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-
insani-kfur).

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan
konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut
awliya’ al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan
(58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan
mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM),
kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun
penyegaran.

Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali
terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca
sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi
belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya
yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir’aun dan ada
Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu
lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-Raniri, dan seterusnya.

Al-Qur’an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang
kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi
pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa
saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya
dan dibimbingnya ke neraka" (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan
agar senantiasa menyadari bahwa "sesungguhnya setan-setan itu
mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam
pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang
musyrik" (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau
berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab.
Wallahu a’lam.

Mengapa Al Qur’an berbahasa Arab

Filed under: Islam

Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab?

Alasannya pastilah terkait dengan karakteristik Al-Qur’an itu
sendiri, sehingga bahasa lain dianggap tidak layak digunakan oleh Al-
Qur’an. Maka untuk menjawabnya, kita perlu tahu karakteristik Al-
Qur’an itu sendiri.

1. Al-Qur’an untuk Semua Manusia

Berbeda dengan kitab suci agama sebelum Islam yang diperuntukkan
khusus kepada kalangan terbatas, Al-Qur’an diperuntukkan untuk
seluruh makhluk melata yang bernama manusia. Maka bahasa yang
digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang punya posisi strategis bagi
semua bangsa manusia. Dan bahasa itu adalah bahasa arab dengan
sekian banyak alasannya.

a. Bahasa arab adalah bahasa tertua di dunia.

Sebagian ahli sejarah bahasa mengatakan bahwa Nabi Adam as dan
istrinya Hawwa adalah manusia yang pertama kali menggunakan bahasa
Arab. Sebab mereka diciptakan di dalam surga, dimana ada dalil yang
menyebutkan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa arab. Ketika
Adam as menjejakkan kaki pertama kali di permukaan planet bumi, maka
bahasa yang dilafadzkannya tentu bahasa arab.

Kalau kemudian anak-anak Adam berkembang biak dan melahirkan jutaan
bahasa yang beragam di muka bumi, semua berasal dari bahasa arab.
Jadi bahasa arab memang induk dari semua bahasa yang dikenal umat
manusia. Wajar pula bila Al-Qur’an yang diperuntukkan untuk seluruh
umat manusia menggunakan bahasa yang menjadi induk semua bahasa umat
manusia.

b. Bahasa Arab Paling Banyak Memiliki Kosa Kata

Sebagai induk dari semua bahasa di dunia dan tetap digunakan umat
manusia hingga hari ini, wajar pula bila bahasa Arab memiliki kosa
kata dan perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para
ahli bahasa Arab menuturkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang
paling menakjubkan. Kata unta yang dalam bahasa Indonesia hanya ada
satu padanannya, ternyata punya 800 padanan kata dalam bahasa arab,
yang semuanya mengacu kepada satu hewan unta. Sedangkan
kata ‘anjing’ memiliki 100-an padanan kata.

Fenomena seperti ini tidak pernah ada di dalam bahasa lain di dunia
ini. Dan hanya ada di dalam bahasa arab, karena faktor usia bahasa
arab yang sangat tua, tetapi tetap masih digunakan sebagai bahasa
komunikasi sehari-hari hingga hari ini. Dengan alasan ini maka wajar
pula bila Allah SWT memilih bahasa arab sebagai bahasa yang dipakai
di dalam Al-Qur’an.

2. Al-Qur’an Berlaku Sepanjang Masa

Berbeda dengan kitab suci agama lain yang hanya berlaku untuk masa
yang terbatas, Al-Qur’an sebagai kitab suci diberlakukan untuk masa
waktu yang tak terhingga, bahkan sampai datangnya kiamat. Maka
bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang tetap digunakan
oleh umat manusia sepanjang zaman.

Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa
pun yang tetap eksis sepanjang sejarah. Setiap bahasa punya usia,
selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris
sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa
Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang
digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu
Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan ‘mbah buyut’-
nya, King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa
berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?

Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa
keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan,
baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian,
bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.

Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang
diucapkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di
abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja
Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya
keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa ‘ngobrol ngalor
ngidul’ hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.

Dengan kenyataan seperti ini, wajarlah bila Allah SWT memilih bahasa
arab sebagai bahasa Al-Qur’an Al-Kariem yang abadi. Kalau tidak,
boleh jadi Al-Qur’an sudah musnah seiring dengan musnahnya
bahasanya.

3. Al-Qur’an Mengandung Informasi yang Padat

Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung
informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah
ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa
arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam.
Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.

Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang bisa dibuat
dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat
manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan
isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz ‘ain dalam bahasa
arab artinya ‘mata’, ternyata punya makna lain yang sangat banyak.
Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna
mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita
mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang
logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk
suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah,
keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti
masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga,
pandangan, dan lainnya.

Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya
terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Dan wajar
pula bila Allah SWT berkenan menjadi bahasa arab sebagai bahasa
untuk firman-Nya yang abadi.

4. Al-Qur’an Harus Mudah Dibaca dan Dihafal

Sesuai dengan fungsi Al-Qur’an yang salah satunya sebagai pedoman
hidup pada semua bidang kehidupan, Al-Qur’an harus berisi beragam
materi dan informasi sesuai dengan beragam disiplin ilmu. Dan kita
tahu bahasa dan istilah yang digunakan di setiap disiplin ilmu pasti
berbeda-beda. Dan sangat boleh jadi seorang yang ahli di dalam
sebuah disiplin ilmu akan menjadi sangat awam bila mendengar istilah-
istilah yang ada di dalam disiplin ilmu lainnya.

Dan kalau beragam petunjuk yang mencakup beragama disiplin ilmu itu
harus disatukan dalam sebuah kitab yang simpel, harus ada sebuah
bahasa yang mudah, sederhana tapi tetap mengandung banyak informasi
penting di dalamnya. Bahasa itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa
itu mampu mengungkapkan beragam informasi dari beragam disiplin
ilmu, namun tetap cair dan mudah dimengerti. Dan saking mudahnya,
bahkan bisa dihafalkan di luar kepala.

Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah untuk dihafalkan,
bahkan penduduk gurun pasir yang tidak bisa baca tulis pun mampu
menghafal jutaan bait syair. Dan karena mereka terbiasa menghafal
apa saja di luar kepala, sampai-sampai mereka tidak terlalu butuh
lagi dengan alat tulis atau dokunentasi. Kisah cerita yang tebalnya
berjilid-jilid buku, bisa digubah oleh orang arab menjadi jutaan
bait puisi dalam bahasa arab dan dihafal luar kepala dengan mudah.
Barangkali fenomena ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
tulis menulis kurang berkembang di kalangan bangsa arab saat itu.
Buat apa menulis, kalau semua informasi bisa direkam di dalam
otaknya?

Maka sangat wajar kalau Allah SWT menjadikan bahasa arab sebagai
bahasa Al-Qur’an.

5. Al-Qur’an Harus Indah dan Tidak Membosankan

Salah satu keunikan bahasa arab adalah keindahan sastranya tanpa
kehilangan kekuatan materi kandungannya. Sedangkan bahasa lain hanya
mampu salah satunya. Kalau bahasanya indah, kandungan isinya menjadi
tidak terarah. Sebaliknya, kalau isinya informatif maka penyajiannya
menjadi tidak asyik diucapkan.

Ada sebuah pintu perlintasan kereta api yang modern di Jakarta.
Setiap kali ada kereta mau lewat, secara otomatis terdengar rekaman
suara yang membacakan peraturan yang terkait dengan aturan
perlintasan kereta. Awalnya, masyarakat senang mendengarkannya, tapi
ketika setiap kali kereta mau lewat, suara itu terdengar lagi, maka
orang-orang menjadi jenuh dan bosan. Bahkan mereka malah merasa
terganggu dengan rekaman suara itu. Ada-ada saja komentar orang
kalau mendengar rekaman itu berbunyi secara otomatis.

Tapi lihatlah surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di
dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa
bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Bahkan bacaan Al-Qur’an
itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru
pendengar yang buta bahasa arab. Sedangkan pendengar yang mengerti
bahasa arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya.

Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar
indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung informasi kandungan
yang kaya, kecuali bahasa arab. Maka wajarlah bila Allah SWT
berfirman dengan bahasa arab.

Apa yang kami sampaikan ini baru sebagai kecil dari sekian banyak
hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan bahasa arab. Kita tidak tahu
apa jadinya bila Al-Qur’an ini tidak berbahasa arab. Mungkin bisa
jadi Al-Qur’an hanya ada di musium saja.

Dan jikalau Kami jadikan al-Quraan itu suatu bacaan dalam bahasa
selain Arab, tentulah mereka mengatakan, "Mengapa tidak dijelaskan
ayat-ayatnya?…. (QS Fushshilat: 44)

Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa
barakatuh

Oleh ustadz Ahmad Sarwat, Lc

Bukti kebesaran Allah

Filed under: Subhanallah

Tanda kebesaran Allah

 

Bukti kebesaran Allah

MAHA BESAR ALLAH, dimana-mana Allah SWT selalu menunjukkan kebesaran dan keagunganNya, sehingga dengan demikian manusia akan semakin sadar bahwa hari akhir itu pasti akan tiba. (tulisan ALLAH pada foto tsunami Srilanka).

Panas matahari yang dahsyat

Filed under: Subhanallah

Panas matahari yang dahsyat

Ayat Allah tentang the red rose

Filed under: Subhanallah

Tata surya_1

Galaxy yang sangat menajubkan

Filed under: Subhanallah

Tata surya

Amalan yang disunatkan pada bulan Ramadhan

Filed under: Ramadhan

Amalan yang disunatkan pada bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan al-Quran sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus."

Amalan-amalan yang disunatkan pada bulan Ramadhan.

1- membaca Al-Quran. Bulan Ramadhan adalah bulan al-Quran sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus."

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan mengadakan ijtima`/berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.

2.Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Yaitu dengan mengurangi makan ketika berbuka serta tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah ahdist dikatakan "Tidak ada perkara yang lebih buruk dari pada memenuhi isi perut dengan makanan secara berlebihan". Ruh puasa terletak pada memeperlemah syahwat, mengurangi keinginan dan mengekang nafsu.

Dari Sahal bin Sa’ad r.a Rasulullah s.a.w. bersabda:" Sesungguhnya di surga ada salah satu pintu yang dinamakan Rayyan: masuk dari pintu tersebut ahli puasa di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain ahli puasa, lalu diserukan "Manakah para ahli puasa?", maka berdirilah para ahli puasa dan tak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu kecuali mereka yang tergolong para ahli puasa, dan apabila mereka sudah masuk, maka pintu sorga tersebut segera ditutup, dan tak ada satu pun yang diperbolehkan masuk setelah mereka". (Bukhari Muslim).

3.Berdo’a ketika berbuka puasa. Abu Hurairah r.a berkata: bersabda Rasulullah s.a.w: Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak do’anya, mereka itu adalah: orang puasa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang yang teraniaya". Untuk itu, hendakanya kita sekalian tidak melupakan saudara-saudara kita yang menderita di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir dan belahan bumi laninnya dalam doa kita. Betapa banyak do’a yang ihlas dan tulus, lebih berguna dibanding ribuan anak panah.

4.Qiyamullail (Tahajjud ) Solat Tarawih hukumnya sunat menurut kesepakan para ulama juga disunatkan untuk meng-khatamkan al-Qur’an selamat shalat tarawih. Hadits-hadits yang menerangkan tentang qiyamullail adalah : Sabda Rasulullah s.a.w: "Barang siapa menghidupan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan mendapatkan ridho Allah s.w.t semata, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau".

Abu Hurairah r.a meriwayatjkan bahwa Rasulullah s.a.w. senang menghidupkan bulan Ramadhan dengan melaksanakan qiyamullail dengan tidak memaksakannya kepada para sahabat untuk melaksanakannya dan bersabda:" Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamullail pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau. Alam riwaayt lain Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu puasa Ramadhan dan disunatkan melakukan Qiyamullail pada bulan suci ini, barang siapa berpuasa dan melaksanakan Qiyamullail dengan penuh keimanan dan harapan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau". Dari Abu Hurairah r.a:"Kemuliaan seorang mu’min teletak pada solatnya yang ia dirikan di tengah malam dan kehormatannya terletak pada ketidak-tergantunga nnnya terhadap orang lain".

5. Berlomba-lomba dalam bersedekah. Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar(berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:" Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim) Anjuran untuk berlomba-lomba dalam bersedekah dan membiasakan diri untuk berderma dan semaksimal mungkin memberikan apa yang kita punya sesuai dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Abbas yang artinya:" Rasulullah orang yang paling dermawan terlebih ketika berjumpa denga malaikat Jibril dan malaikat Jibril selalu menemuinya setiap malam dibulan Ramadhan hingga akhir bulan itu." (HR Bukhari)

6. I`tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan. I`tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan merupakan penyempurna ibadah puasa. Ini karena I’tikaf artinya mengkonsentrasikan diri menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya. Hingga kecintaannya semata hanya kepada Allah, mengalahkan kecintaannya kepada selain Allah. Inilah tujuan I’tikaf di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, hari yang paling utama selama bulan tersebut. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan keutamaan yang dipilih oleh Allah SWT. Diriwayatkan dari `Aisyah r.a. bahwasanya Nabi Muhammad saw selalu beri`tikaf di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan hingga ajal menjemputnya, kemudian sunnah ini dihidupkan lagi oleh isteri-isteri Rasulullah selepas kematiannya" (Bukhari Muslim).

7. Menjauhi Larangan Agama: Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang mu`min adalah menjaga lisan dari mengguncing dalam keadaan berpuasa sebagaimana yang dipesankan Rasulullah s.a.w: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Allah baginya berpuasa dari makan dan minum" (HR: Bukhari). Berkata Ibnu Battal: Bukan berarti kemudian ia meninggalkan puasa, tapi ini merupakan peringatan agar meninggalkan perkataan dusta dan ghibah.

Adapun makna perkataan Rasul: "Tiada arti di sisi Allah s.w.t." menurut Ibnu Munir adalah: tamsil dari ditolaknya puasa yang bercampur dengan dusta. Adapun puasa yang bersih dari pekerjaan tercela tersebut, insya Allah akan tetap diterima. Ibnu Arabi berkata: Umat-umat sebelum kita cara berpuasanya hanya menahan diri dari bicara namun diperbolehkan makan dan minum, begitupun mereka tidak sanggup, sehingga Allah meringankan dengan dihapusnya setengah hari yaitu malam dan dihapusnya setengah puasa yaitu puasa dari bicara, namun mereka tetap tidak sanggup, mereka bahkan melakukan tindakan-tindakan yang diharamkan agama. Kemudian Allah meringakan lagi untuk meningkatkan derajat manusia dengan meninggalkan perkataan dusta dan munkar. Allah pun mewayuhkan kepada Rasulullah s.a.w. "Barangsiapa yang berkata dusta atau berbuat munkar maka Allah s.w.t. tidak menerima puasanya dari makanan dan minuman.

Maka beruntunglah mereka yang menyibukkan diri dengan aibnya hingga tidak memikirkan aib orang lain dan beruntunglah mereka yang tinggal di rumah, sibuk dengan ibadah kepada Allah, menangisi kesalahannya di saat manusia sedang terlelap tidur. Selain itu, selayaknya kita tidak ikut campur urusan orang lain sehingga kita terseret dalam kemungkaran atau menjerumuskan orang lain dalam kemungkaran. Kalau ada orang yang mengganggu kita, hendaklah kita ingatkan bahwa kita sedang berpuasa, sebagaimana diajarkan Rasulullah saw: Apabila dihina oleh seseorang hendaklah ia ucapkan saya sedang berpuasa. Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, mulut seorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibanding minyak wangi misik". Maka seorang mu`min yang menguasai syahwatnya dan menahan dirinya dari makanan dan minuman yang halal, menahan dirinya dari menggauli istrinya yang halal, seyogyanya ia juga menjaga dirinya dari hal yang jelas-jelas diharamkan di luar bulan

Tiada kata yang pantas untuk mengakhiri tulisan ini, selain firman Allah s.w.t. dalam surat Fatir ayat 32-34 "Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang dzalim pada diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang biasa saja dan diantara mereka ada yang lebih banyak berbuat kebaikan. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Bagi mereka surga Eden yeng mereka masuki dengan dihiasi gelang-gelang emas dan mutiara dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan penerima Syukur".

Disarikan dari milis fkrap

Peristiwa Historis di Bulan Ramadhan

Filed under: Ramadhan

Peristiwa Historis di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang sangat bernilai historis dalam Islam, disamping predikatnya sebagaibulan terbaik untuk ibadah puasa dan lain-lain. Peristiwa-peristiwa historis itu sangat berperan dalam perkembangan Islam dan penyiarannya. Peristiwa-peristiwa itu menjadi renungan yang mendalam pada saat kaum mukminin menunaikan puasa.

Inspirasi dan pengaruh yang dipantulkan oleh peristiwa historis itu selalu memacu semangat kaum muslimin untuk meneruskan risalah Islam ke seluruh alam. Al-Qur’an adalah tuntunan yang membuka jalur-jalur kesuksesan dan titian menuju kejayaan serta kemuliaan. Itulah awal peristiwa historis dalam bulan ramadhan. Hasil tarbiyah Al-Qur’an itu terbukti dalam perang Badar dan perang penaklukan Mekkah.

1. Pengangkatan Muhammad saw. sebagai Rasul dan awal turunnya Al-Qur’an

Ketika Allah swt. hendak memuliakan Muhammad saw. sebagai Rasul dan Nabi-Nya, setiap kali Rasulullah saw. hendak membuang hajatnya dan pergi jauh ke padang pasir, hingga berjarak sangat jauh dari pemukiman dan beliau telah sampai di lembah-lembah Mekkah, tidak ada pohon dan batu pun yang beliau jumpai, melaikan selalu mengucapkan salam kepada beliau dengan,
السلام عليك يا رسول الله


Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah (utusan Allah swt.)

Kemudian, Rasulullah saw. menengok ke kanan dan ke kiri serta ke belakangnya. Namun, beliau tidak melihat siapa-siapa, yang ada hanyalah pohon dan batu. Hal itu berlangsung beberapa lama, hingga Allah swt. mengutus Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah swt. ketika Rasulullah saw. berada di gua Hira, dengan turunnya lima ayat pertama dari surah Al-Alaq, “ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq: 1-5).

Allah swt. Berfirman, “ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelas an mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…” (Al-Baqarah: 185).

Allah swt. Berfirman, “ Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul ” (Ad-Dukhan: 1-5)

Allah swt. Berfirman, “ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ” (Al-Fajr: 1-5).

2. Perang Badar

Allah swt. Berfirman, “….jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, …” (Al-Anfal: 41).

Hari itu adalah hari dimana terjadi pertempuran antara pasukan kaum muslimin melawan orang-orang musyrik di perang Badar. Peristiwa Perang Badar terjadi pada Jum’at pagi tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Rasulullah saw. keluar bersama para sahabat pada hari Senin, delapan hari setelah bulan ramadhan masuk.

Rasulullah saw. mengangkat Amru bin Ummu Maktum atau Abdullah bin Ummu Maktum untuk memimpin shalat orang-orang yang ada di Madinah. Setelah sampai di Rauha, Rasulullah saw. memerintahkan Abu Lubabah untuk kembali ke Madinah, dan mengangkatnya sebagai amir selama Rasulullah saw. pergi.

Dalam kisah perang Badar yang diisyaratkan oleh ayat-ayat yang mulia ini, Muhammad bin Ishaq dengan sanadnya – dalam sirah nabawiyah - berkata; “setelah Rasulullah saw. mendengar Abu Sufyan akan bertolak dari Syam, beliau menyemangati kaum muslimin agar menghadangnya, dan Rasulullah saw. Bersabda, "Inilah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Maka keluarlah kalian untuk menghadangnya, semoga Allah memberikan harta rampasan kepada kalian”.

Maka orang-orang pun bersegera menyambut seruan itu. Walaupun sebagian orang ada yang merasa ringan, namun yang lain ada juga yang merasa berat. Hal itu disebabkan mereka tidak menyangka bahwa Rasulullah saw. akan menghadapi peperangan.

Ketika dekat dengan wilayah Hijaz, Abu Sufyan telah memerintahkan mata-matanya untuk mencari dan menyelidiki informasi. Dia juga bertanya kepada kabilah-kabilah yang berpapasan dengannya, karena khawatir terhadap kafilahnya. Sehingga, ada sebagian kafilah yang memberitakan kepadanya, bahwa Muhammad saw. telah meminta para sahabat beliau untuk mencegatmu dan kafilahmu.

Maka Abu Sufyan pun mengambil ancang-ancang dan berhati-hati setelah itu. Kemudian, dia mengupah Dhamdham bin Amru Al-Ghifari untuk diutus kepada penduduk Makkah agar keluar membela kafilah dagang mereka, dan mengabarkan kepada mereka bahwa Muhammad saw. bersama para sahabatnya telah mengancamnya dan mencegatnya. Maka, keluarlah Dhamdham bin Amru Al-Ghifari segera bertolak ke Makkah.

Sementara, Nabi Muhammad saw. bersama para sahabat beliau telah sampai ke suatu lembah, yang dinamakan dengan Dafaran. Lalu Beliau bertolak darinya, namun di salah satu bagian lembah tersebut, beliau mendapat khabar bahwa Quraisy telah bertolak ke arah Rasulullah saw. untuk membela kafilah mereka.

Kemudian, Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para sahabat, memberitahukan tentang berita dari Quraisy. Maka, berdirilah Abu Bakar ra., beliau berbicara yang baik. Kemudian, berdirilah Umar bin Khatthab ra. dan beliau berbicara yang baik.

Lalu berdirilah Miqdad bin Amru seraya berkata, “wahai Rasulullah, majulah ke arah yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada anda, karena kami akan selalu bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti Bani Israil berkata kepada Musa, Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (Al-Maidah; 24).

Namun, bertolaklah Anda dan Tuhan Anda. Dan berperanglah, karena kami akan berperang bersama Anda dan Tuhan Anda. Demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, seandainya Anda membawa kami ke Barkil Gamad’ yaitu suatu kota di Habasyah (Etiopia), maka kami bertahan dan bersabar bersama Anda untuk menuju kepadanya, hingga Anda mencapainya.”

Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepadanya dengan sabda yang baik dan mendo’akan kebaikan untuknya, "Berilah pendapat untukku wahai orang-orang!”. Rasulullah saw. mengarahkan maksud beliau kepada orang-orang Ansar, - hal itu disebabkan mereka adalah terbanyak jumlahnya - dan hal itu disebabkan pula oleh baiat mereka kepada Rasulullah saw. di Aqabah.

Mereka berkata, “wahai Rasulullah saw. sesungguhnya kami bebas dari perlindungan terhadap diri Anda, hingga Anda sampai ke negeri kami. Bila Anda telah sampai ke negeri kami, maka Anda telah berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungi dan membela Anda dari segala sesuatu yang kami bela, sebagaimana anak-anak dan isteri-isteri kami”.

Rasulullah saw. merasa khawatir bahwa orang-orang Anshar tidak memandang wajib bagi mereka untuk membela Rasulullah saw. dan menolongnya, melainkan hanya atas musuh yang menyerang beliau di Madinah, dan bahwa mereka tidak harus ikut serta menyerbu musuh yang jauh dari negeri Madinah.

Setelah Rasulullah saw. menyatakan sabda tersebut, Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, “Demi Allah, seolah-olah Anda menginginkan kami wahai Rasulullah saw.?”

Rasulullah saw. Bersabda, " benar”.

Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, “ kami telah beriman kepada Anda dan membenarkan Anda, dan kami telah bersaksi bahwa risalah yang Anda bawa dan emban adalah kebenaran dan haq. Kami juga telah memberikan sumpah dan janji kami kepada Anda, bahwa kami akan mendengar dan mentaati anda. Maka, majulah terus wahai Rasulullah saw. kemanapun Allah swt. menyuruh Anda.

Karena demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran. Seandainya Anda menyuruh kami untuk menceburkan diri kami ke dalam lautan ini dan Anda telah menceburkan diri ke dalamnya, maka kami pun akan ikut menceburkan diri kami ke dalamnya bersama Anda. Tidak akan ada seorang pun yang tertinggal.
Kami tidak akan takut dan benci bertemu dengan musuh-musuh kami besok. Karena sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang sabar dan bertahan dalam perang, jujur ketika bertempur, dan semoga Allah swt. menampakkan kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda. Maka bertolaklah bersama kami dengan keberkahan dari Allah swt.”.

Maka, tampaklah kebahagiaan dalam diri Rasulullah saw. dengan pernyataan Sa’ad. Hal itu membuat beliau bersemangat, seraya bersabda, “bertolaklah kalian dengan keberkahan dari Allah swt. dan bergembiralah. Karena sesungguhnya Allah swt. telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok Quraisy, dan demi Allah, seolah-olah aku melihat kehancuran kaum itu saat ini”.

Perang Badar berakhir setelah bulan Ramadan atau awal dari Syawwal.

3. Penaklukkan Mekkah

Penaklukkan Mekkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke delapan. Penyebab perang ini adalah terjadinya pertempuran antara Bani Bakar melawan Bani Khuza’ah. Pemicu pertempuran antara keduanya adalah seorang dari Bani Al-Khadrami, namanya Malik bin Abbad, yang merupakan sekutu dari Bani Bakar, keluar untuk berdagang.
Ketika dia sampai ke tanah Khuza’ah, mereka melakukan kejahatan terhadap Malik bin Abbad, membunuhnya, dan merampas harta bendanya. Kemudian, Bani Bakar pun membalas dendam dan membunuh salah seorang dari Bani Khuza’ah.

Permusuhan ini berlarut-larut hingga Islam menjadi penghalang antara keduanya dalam permusuhan, dan orang-orang lebih tertarik dengan isu Islam dan dakwahnya. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah saw. dengan Quraisy, syarat-syarat perjanjian yang berlaku bagi Rasulullah saw. dengan Quraisy juga berlaku atas para sekutu masing-masing.

Diantara ketentuan syarat perjanjian tersebut; bahwa barang siapa ingin masuk ke dalam sekutu Rasulullah saw., boleh melakukannya, dan barang siapa yang ingin masuk ke dalam sekutu Quraisy, dipersilahkan. Bani Bakar masuk ke dalam sekutu Quraisy dan Bani Khuza’ah masuk ke dalam sekutu Rasulullah saw.
Bani Bakar merasa ada peluang untuk melakukan pembalasan kepada Bani Khuza’ah. Naufal bin Mu’awiyah bersama pengikutnya, yaitu pemimpin Bani Bakar - namun tidak semua Bani Bakar ikut bersamanya - keluar menyerang Bani Khuza’ah di lembah mereka dan sumur mereka, yaitu Al-Watir. Mereka membunuh orang-orang yang ada dan terjadilah pertempuran.

Quraisy ikut memasok senjata kepada Bani Bakar, dan dengan sembunyi-sembunyi mereka juga ikut membantu dalam pasukan Bani Bakar, hingga mereka berhasil mendesak Bani Khuza’ah sampai ke dekat areal tanah haram. Dengan perbuatan ini, maka Quraisy telah melanggar salah satu syarat perjanjian damai, dan dengan demikian mereka telah memaklumkan perang terhadap Rasulullah saw. dan kaum muslimin.

Rasulullah saw. pun menyiapkan pasukan untuk menyerang Makkah. Rasulullah saw. keluar bertolak dari Madinah pada hari ke sepuluh bulan Ramadhan. Rasulullah saw. berangkat dari Madinah dalam kondisi puasa, demkian pula para pasukan beliau. Namun ketika sampai di Kadid, antara Asfan dan Amaj, Beliau berbuka, demikian pula para pasukan beliau ikut berbuka.

Rasulullah saw. berhasil menaklukkan Mekkah dengan gilang-gemilang, tanpa banyak menumpahkan darah. Allah swt. melukiskan hal itu dalam firman-Nya,
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3).

Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI

Bersikap dermawan di bulan Ramadhan

Filed under: Ramadhan

 

Menyambut Ramadhan: Bersikap Dermawan di Bulan Ramadan

Sifat dermawan adalah sifat yang sangat terpuji lagi mulia. Cukup lah bagi kita untuk memahaminya, bahwa Allah swt telah menasbihkan diriNya dengan sifat "al-Karim", Yang Maha Dermawan. Kalau lah tidak karena kedermawanan Allah, kita pasti tidak memiliki apa-apa, tidak kesejahteraan, tidak pula ketentraman. Dermawan juga merupakan sifat para Nabi, para sahabat, serta orang-orang saleh.

Seorang yang dermawan akan ditutupi Allah aib dan keburukannya. Bahkan kebaikan demi kabaikan akan diperolehnya. Seorang penyair Arab pernah mengatakan "Seorang dermawan, apabila engkau memujinya, maka semua orang akan ikut memujinya, namun apabila engkau mencelanya, akan kau dapati bahwa hanya engkau sendiri yang mencelanya".

Dermawan artinya rela berkorban di jalan Allah dengan harta atau bahkan jiwa dan raga. Dermawan bisa terwujud dalam bentuk: uluran tangan untuk memberi sedekah, infak, zakat, bantuan dana pembangunan masjid, sumbangan ke sekolah; ke pasantren; panti asuhan, dan juga termasuk membantu para pengungsi, korban perang dan lain sebagainya. Derwaman merupakan cerminan rasa solidaritas kemanusiaan dari seorang hamba Allah Yang Maha Kasih kepada hamba lainnya yang memerlukan.

Tingkat tertinggi dari kedermawanan adalah "Iitsar", yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, padahal ia sendiri masih memerlukannya. Inilah yang digambarkan Allah swt dalah surat al Hashr ayat 9 dalam menceritakan kedemawanan kaum Anshar (penduduk Madinah) kepada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah untuk berhijrah.

"Dan mereka ber-itsar (mengutamakan orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan."

Konon ayat ini turun pada seorang sahabat yang dimintai Rasulullah agar bersedia menerima seorang tamu untuk bermalam dirumahnya. Karena rasa hormat sahabat tersebut kepada Rasulullah, maka diterimanya tamu tersebut, padahal ia menyadari tidak memiliki apapun untuk disuguhkan kecuali makan malam yang pas-pasan untuk keluarganya. Sahabat tersebut bersama isterinya lalu meninabobokkan anak-anak mereka hingga mereka tertidur sebelum makan malam, lalu dipadamkannya lampu ruangan sebelum mereka menyuguhkan makan malam kepada sang tamu. Lalu ia duduk bersama tamu berpura-pura ikut menyantap makanan, padahal ia tidak ikut makan karena khawatir akan sedikitnya makanan yang disuguhkan. Pagi harinya Allah mengabadikan sifat kedermawaan sahabat tersebut dalam ayat diatas untuk diingat dan dijadikan suri teladan umat Islam bahwa betapa mulianya sifat dermawan ini.

Kedermawanan seseorang akan menunjukkan keberanian dalam dirinya, karena ia tidak merasa takut akan kehilangan apa yang ia berikan kepada orang lain. Kedermawanan juga mencerminkan iman yang kuat dan kokoh, karena ia yakin bahwa apa yang diberikannya kepada orang lain niscaya akan mendapatkan ganti dari Allah. Inilah apa yang telah dijanjikan oleh Al Qur’an:

"Dan apa yang kalian infakkan, maka Dia (Allah) pasti menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya" ( Q.S. Saba’ : 34). Dalam sebuah hadis Rasulullah juga bersabda "Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan sorga. Sedangkan orang bakhil dan kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka".

Kedermawan yang dianjurkan adalah yang disertai keikhlasan untuk membantu saudara yang memerlukan dan demi mencari keridlaan Allah. Inilah yang akan mendapatkan pahala berlipat ganda dari Allah swt.

"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah, adalah sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan setiap butir membuahkan lagi 100 biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendakiNya. Allah maha luas karuniaNya dan lagi maha mengetahui" (al-Baqarah: 261).

Di bulan Ramadan ini, patut kita menggugah diri, dengan kacamata kedermawanan untuk menaruh perhatian kepada saudara-saudara kita yang kebetulan bernasib kurang baik. Saudara-saudara kita: yang kelaparan, yang sakit, yang putus sekolah, yang kehilangan pekerjaan dan yang terlunta-lunta di pengungsian. Mereka menantikan uluran tangan, namun sering kita enggan untuk memberikan apa yang labih dari harta yang kita miliki. Puasa kita dengan meninggalkan makan dan minum seharian, tentu mengingatkan kita kepada saudara-saudara kita yang kelaparan dan kehausan, karena kemiskinan dan penderitaan mereka.

Di bulan Ramadan ini, kita selayaknya juga meningkatkan rasa kedermawanan kita sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah. Kedermawanan beliau ketika memasuki bulan Ramadan diibaratkan melebihi kedermawanan hembusan angin yang membawa hujan, kesejukan dan kehidupan bagi alam semesta. ( H.R. Muslim).

(Disarikan dari kitab "Al-durus al-Ramadlaniyah" dan "Min Kunuzil Islam")

Pembukaan

Filed under: Pembukaan

BismillahiRahmanniRahim

Assalamu’alaikum wr. wb

Dengan mengucapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT apa yang telah menganugrahkan kepada kami berupa ilmu yang bermanfaat. Dan tak lupa pula shalawat dan salaam tercurahkan kepada pemimpin revolusi Islam sepanjang zaman Muhammad Rasulullah SAW, para sahabat-sahabat beliau dan para pengikut-pengikut setia.

Melalui kupunyaweb ini kami ingin menyebarkan atau bertukar informasi islami yang kami dapat melalui sumber-sumber lain dengan niat yang ikhlas dan dalam rangka menggali ilmu. Semoga Allah SWT meridhoi niat kami ini.

Akhirulkalam kami ucapkan selamat membaca artikel-artikel yang kami post.

Wassalamu’alaikum wr.wb.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan